Shortcode

Karyawan tetap PT Freeport Indonesia sedang bersantai. (c) REUTERS/Muhammad Yamin
Mungkin hari-hari ini adalah saat yang tepat bagi semua masyarakat dan orang asli Papua untuk berpikir bahwa bekerja di Freeport HANYA merupakan SATU DARI SEKIAN BANYAK KESEMPATAN DAN PILIHAN PEKERJAAN YANG BISA DIKERJAKAN. Banyak mimpi dalam diri setiap orang Papua yang lebih penting yang secepatnya mesti dibangkitkan, dikerjakan, kemudian segera diwujudkan. Banyak pekerjaan lain yang masih bisa kita kerjakan. Kita tidak akan kelaparan atau bahkan mati hanya karena tidak lagi bekerja disana. Tanah ini telah begitu berbaik hati kepada kita, bahkan telah memelihara nenek moyang kita semenjak beribu-ribu tahun yang lalu. Apa buktinya? Buktinya adalah kita masih hidup sampai hari ini untuk melihat semua kondisi yang terjadi di atas tanah kita.
Hans Wospakrik seorang fisikawan asal Papua yang merupakan dosen fisika teoritik di Institut Teknologi Bandung.
Jika semua ingin bekerja di Freeport, maka papua akan kehilangan Seniman2 hebat seperti Black Brothers, Budayawan pandai seperti Arnold C. Ap, Fisikawan pintar seperti Hans Wospakrik, Binaragawan sejati seperti Levi Rumbewas, Pesepakbola lincah seperti Boas Salossa, Pendidik2 luar biasa seperti Belthzasar Kambuaya, Yohana Yembise, Manuel Kaisiepo, dan masih banyak tokoh-tokoh papua lain yang hebat di bidang dan bakatnya masing2.
Papua kedepan membutuhkan dan harus memiliki Sastrawan, Juru Masak, Tukang Roti, Penjahit, Penenun, Fotografer, Penjelajah, Pemerhati Flora dan Fauna, Pedagang, Pengusaha, Penulis, Arkeolog, Sosiolog, Psikolog, Sejarawan, Aktor/is, Produser Film/Musik, Gitaris, Pianis, Geolog, Fotografer, Bartender, Ahli Bahasa, Guru, Perawat, Dosen, Pilot, Dokter, Pelaut, Nelayan, Peternak, Petani, Tukang Batu, Ahli Bangunan, Model, Astronot, Pendongeng, Pelukis, Kriminolog, Pandai Besi, Insinyur Perkapalan, Pematung, Pelaut, Ahli Sketsa, DAN LAIN-LAIN DAN LAIN-LAIN. Oleh Karena itu, mari bersama-sama, renungkan kembali pilihan anda hari-hari ini, dan segera putuskan. Memang. kadang sesuatu yang diberikan lebih malah membawa malapetaka jika tidak diurus dengan bijak. Bagaikan buah simalakama. Emas, Minyak, dan semua sumber daya alam di bumi kita sering malah mendatangkan kesejahteraan palsu dan memadamkan semua kemampuan terbaik kita untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk tanah kita.
Ingat, EMAS AKAN HABIS, MINYAK PASTI HABIS, dan semua yang pernah berbaik hati kepada kita akan juga turut pergi, menghilang, seolah mereka tidak pernah ada dan berjalan bersama kita. Pada akhirnya kita akan kembali seperti dulu, saat mereka belum melihat Emas dan Minyak di tanah kita. Jangan tunda untuk berbuat lebih untuk diri kita, keluarga, suku, bangsa, dan generasi papua di masa depan. Semoga.
By Arman Wakum#Akhir Waktu

Jika Freeport Berhenti Beroperasi Di Papua

Karyawan tetap PT Freeport Indonesia sedang bersantai. (c) REUTERS/Muhammad Yamin
Mungkin hari-hari ini adalah saat yang tepat bagi semua masyarakat dan orang asli Papua untuk berpikir bahwa bekerja di Freeport HANYA merupakan SATU DARI SEKIAN BANYAK KESEMPATAN DAN PILIHAN PEKERJAAN YANG BISA DIKERJAKAN. Banyak mimpi dalam diri setiap orang Papua yang lebih penting yang secepatnya mesti dibangkitkan, dikerjakan, kemudian segera diwujudkan. Banyak pekerjaan lain yang masih bisa kita kerjakan. Kita tidak akan kelaparan atau bahkan mati hanya karena tidak lagi bekerja disana. Tanah ini telah begitu berbaik hati kepada kita, bahkan telah memelihara nenek moyang kita semenjak beribu-ribu tahun yang lalu. Apa buktinya? Buktinya adalah kita masih hidup sampai hari ini untuk melihat semua kondisi yang terjadi di atas tanah kita.
Hans Wospakrik seorang fisikawan asal Papua yang merupakan dosen fisika teoritik di Institut Teknologi Bandung.
Jika semua ingin bekerja di Freeport, maka papua akan kehilangan Seniman2 hebat seperti Black Brothers, Budayawan pandai seperti Arnold C. Ap, Fisikawan pintar seperti Hans Wospakrik, Binaragawan sejati seperti Levi Rumbewas, Pesepakbola lincah seperti Boas Salossa, Pendidik2 luar biasa seperti Belthzasar Kambuaya, Yohana Yembise, Manuel Kaisiepo, dan masih banyak tokoh-tokoh papua lain yang hebat di bidang dan bakatnya masing2.
Papua kedepan membutuhkan dan harus memiliki Sastrawan, Juru Masak, Tukang Roti, Penjahit, Penenun, Fotografer, Penjelajah, Pemerhati Flora dan Fauna, Pedagang, Pengusaha, Penulis, Arkeolog, Sosiolog, Psikolog, Sejarawan, Aktor/is, Produser Film/Musik, Gitaris, Pianis, Geolog, Fotografer, Bartender, Ahli Bahasa, Guru, Perawat, Dosen, Pilot, Dokter, Pelaut, Nelayan, Peternak, Petani, Tukang Batu, Ahli Bangunan, Model, Astronot, Pendongeng, Pelukis, Kriminolog, Pandai Besi, Insinyur Perkapalan, Pematung, Pelaut, Ahli Sketsa, DAN LAIN-LAIN DAN LAIN-LAIN. Oleh Karena itu, mari bersama-sama, renungkan kembali pilihan anda hari-hari ini, dan segera putuskan. Memang. kadang sesuatu yang diberikan lebih malah membawa malapetaka jika tidak diurus dengan bijak. Bagaikan buah simalakama. Emas, Minyak, dan semua sumber daya alam di bumi kita sering malah mendatangkan kesejahteraan palsu dan memadamkan semua kemampuan terbaik kita untuk melakukan sesuatu yang lebih untuk tanah kita.
Ingat, EMAS AKAN HABIS, MINYAK PASTI HABIS, dan semua yang pernah berbaik hati kepada kita akan juga turut pergi, menghilang, seolah mereka tidak pernah ada dan berjalan bersama kita. Pada akhirnya kita akan kembali seperti dulu, saat mereka belum melihat Emas dan Minyak di tanah kita. Jangan tunda untuk berbuat lebih untuk diri kita, keluarga, suku, bangsa, dan generasi papua di masa depan. Semoga.
By Arman Wakum#Akhir Waktu