Shortcode

Banyak berita-berita yang bermunculan akhir-akhir ini, suara orang Papua dibagi menjadi dua; satu pihak menginginkan kemerdekaan, sementara beberapa kelompok menginginkan Papua tetap dalam Indonesia. Aksi penolakan perjuangan Papua merdeka oleh orang Papua sendiri baru pertama kali terjadi pada akhir tahun 2016 ini setelah ULMWP yang mewakili rakyat Papua diterima di MSG yang menjadi ancaman tersendiri bagi kesatuan Republik Indonesia.

Banyak media-media online baru yang mempropagandakan dualisme suara Papua dalam menanggapi isu kemerdekaan Papua tanpa ada bukti signifikan. Hal tersebut adalah bukti kepanikan Indonesia. Akan tetapi, tak peduli berapa presentase perbandingan antara orang Papua yang pro dan yang kontra akan kemerdekaan Papua, yang paling penting adalah tercapainya kesepakatan bersama yang tak dapat ditawar-tawar lagi mengenai keputusan untuk berpisah atau tetap bergabung dengan Indonesia.


Berikut ini beberapa pemberitaan media-media online yang melahirkan pro kontra akan apa maunya orang Papua yang sebenarnya.


Untuk pemberitaan di media tersebut diatas masih berupa propaganda bagi orang Papua. Referendum solusi terbaik menemukan kesepakatan.

Jika tidak ada keputusan bersama yang bersifat final dari orang Papua sendiri, maka akan selalu bermunculan gerakan-gerakan yang memperjuangankan pandangannya masing-masing. 


Oleh karena itu, pihak Jakarta harus melakukan suatu upaya mencari kesepakatan bersama dengan orang Papua mengenai apa yang sebaiknya dilakukan demi kebaikan bersama. Sudah lebih dari 50 tahun Papua berada dalam badan NKRI, tetapi justru gerakan pemisahan diri semakin mengila dan tampaknya Indonesia sudah terlambat untuk menahan langkah pejuang-pejuang Papua dalam upaya mereka mencari dukungan mencapai kemerdekaan Papua.


Pada tanggal 14 juli 2016 ini, banyak gerakan pemberian dukungan kepada ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG di berbagai tempat di Papua maupun di luar negeri, tetapi di lain pihak, banyak pemberitaan media yang memberitakan bahwa adanya gerakan-gerakan orang Papua juga yang menolak ULMWP. 


Dari kalangan orang Papua beranggapan bahwa pihak-pihak yang menolak ULMWP adalah orang-orang bayaran intelejen Indonesia dan masyarakat non-Papua yang berada di Papua.
Tetapi pokok permasalahannya bukan disitu, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah orang Papua ingin merdeka atau tetap bergabung dengan Indonesia? Entah. 


Referendum adalah cara terbaik yang dapat dilaksanakan guna untuk mencapai kesepakatan bersama dalam menentukan masa depan orang Papua. Bila kesepakatan bersama sudah didapat, tentu tidak akan ada lagi gerakan-gerakan baru. 


Jika tidak dilaksanakan referendum, maka perjuangan Papua dalam mencapai kemerdekaan akan tetap ada. Tetapi jika sudah referendum dan kalau ternyata pihak pro NKRI menang, pasti tidak akan lagi ada upaya-upaya pemisahan diri.


Referendum memang solusi terbaik yang dipakai oleh negara-negara maju untuk mencapai kesepakatan bersama. Misalnya United Kingdom yang memberi Skotlandia kesempatan referendum yang ternyata dimenangi oleh pro UK. Mengapa Indonesia harus takut dengan referendum? Belum tentu suara pro kemerdekaan Papua menang.


Sayangnya solusi terbaik ini masih ditakuti oleh pihak Indonesia, barangkali Indonesia sudah mempelajari dan memprediksi lebih awal akan kemenangan pihak pro Papua merdeka di referendum.

REFERENDUM PAPUA, SOLUSI TERBAIK YANG DITAKUTI INDONESIA

Banyak berita-berita yang bermunculan akhir-akhir ini, suara orang Papua dibagi menjadi dua; satu pihak menginginkan kemerdekaan, sementara beberapa kelompok menginginkan Papua tetap dalam Indonesia. Aksi penolakan perjuangan Papua merdeka oleh orang Papua sendiri baru pertama kali terjadi pada akhir tahun 2016 ini setelah ULMWP yang mewakili rakyat Papua diterima di MSG yang menjadi ancaman tersendiri bagi kesatuan Republik Indonesia.

Banyak media-media online baru yang mempropagandakan dualisme suara Papua dalam menanggapi isu kemerdekaan Papua tanpa ada bukti signifikan. Hal tersebut adalah bukti kepanikan Indonesia. Akan tetapi, tak peduli berapa presentase perbandingan antara orang Papua yang pro dan yang kontra akan kemerdekaan Papua, yang paling penting adalah tercapainya kesepakatan bersama yang tak dapat ditawar-tawar lagi mengenai keputusan untuk berpisah atau tetap bergabung dengan Indonesia.


Berikut ini beberapa pemberitaan media-media online yang melahirkan pro kontra akan apa maunya orang Papua yang sebenarnya.


Untuk pemberitaan di media tersebut diatas masih berupa propaganda bagi orang Papua. Referendum solusi terbaik menemukan kesepakatan.

Jika tidak ada keputusan bersama yang bersifat final dari orang Papua sendiri, maka akan selalu bermunculan gerakan-gerakan yang memperjuangankan pandangannya masing-masing. 


Oleh karena itu, pihak Jakarta harus melakukan suatu upaya mencari kesepakatan bersama dengan orang Papua mengenai apa yang sebaiknya dilakukan demi kebaikan bersama. Sudah lebih dari 50 tahun Papua berada dalam badan NKRI, tetapi justru gerakan pemisahan diri semakin mengila dan tampaknya Indonesia sudah terlambat untuk menahan langkah pejuang-pejuang Papua dalam upaya mereka mencari dukungan mencapai kemerdekaan Papua.


Pada tanggal 14 juli 2016 ini, banyak gerakan pemberian dukungan kepada ULMWP untuk menjadi anggota penuh MSG di berbagai tempat di Papua maupun di luar negeri, tetapi di lain pihak, banyak pemberitaan media yang memberitakan bahwa adanya gerakan-gerakan orang Papua juga yang menolak ULMWP. 


Dari kalangan orang Papua beranggapan bahwa pihak-pihak yang menolak ULMWP adalah orang-orang bayaran intelejen Indonesia dan masyarakat non-Papua yang berada di Papua.
Tetapi pokok permasalahannya bukan disitu, yang menjadi pertanyaan sekarang adalah apakah orang Papua ingin merdeka atau tetap bergabung dengan Indonesia? Entah. 


Referendum adalah cara terbaik yang dapat dilaksanakan guna untuk mencapai kesepakatan bersama dalam menentukan masa depan orang Papua. Bila kesepakatan bersama sudah didapat, tentu tidak akan ada lagi gerakan-gerakan baru. 


Jika tidak dilaksanakan referendum, maka perjuangan Papua dalam mencapai kemerdekaan akan tetap ada. Tetapi jika sudah referendum dan kalau ternyata pihak pro NKRI menang, pasti tidak akan lagi ada upaya-upaya pemisahan diri.


Referendum memang solusi terbaik yang dipakai oleh negara-negara maju untuk mencapai kesepakatan bersama. Misalnya United Kingdom yang memberi Skotlandia kesempatan referendum yang ternyata dimenangi oleh pro UK. Mengapa Indonesia harus takut dengan referendum? Belum tentu suara pro kemerdekaan Papua menang.


Sayangnya solusi terbaik ini masih ditakuti oleh pihak Indonesia, barangkali Indonesia sudah mempelajari dan memprediksi lebih awal akan kemenangan pihak pro Papua merdeka di referendum.