Shortcode

Papua yang dahulu dipanggil Irian Jaya tidak pernah kehabisan penuntut kemerdekaan sejak berada di bawah kekuasaan Indonesia. Dampak tuntutan kemerdekaan itu sangat terasa di tanah Papua maupun Jakarta.

Dampak dari tuntutan kemerdekaan itu sudah banyak kita saksikan sendiri, misalnya kasus rasime beberapa waktu lalu di Jogya, otonomis khusus, pembunuhan, bergabungnya Indonesia dengan Malanesian Spearhead Group (MSG) dan banyak pengaruh lainnya yang diberikan pro kemerdekaan Papua terhadap kebijakan Indonesia.

Tetapi, seperti apa kira-kira kondisi Papua sekarang jika orang Papua tidak menuntut kemerdekaan? Berikut ini beberapa kondisi yang akan terjadi jika orang Papua tidak pernah menuntut kemerdekaannya ke Jakarta.

  • No OTSUS. Otonomi khusus atau otsus diberikan Indonesia kepada provinsi Papua sebagai bentuk nilai tukar untuk supaya orang Papua segera berhenti minta merdeka. Baca selengkapnya disini
Kunjungan Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan ke Papua tanggal 28-29 Maret 2016
  • Pemerintah pusat tidak akan memberi perhatian khusus. Papua memang diberikan perhatian lebih dibandingkan daerah-daerah lain diluar pulau Jawa yang tidak menuntut kemerdekaan, tentu hal tersebut adalah bentuk reaksi pemerintah pusat kepada daerah Papua. Jika tidak ada tuntutan kemerdekaan dari orang Papua, pasti tidak akan diberikan perhatian khusus terkecuali mengenai kekayaan alamnya.

  • Minim pelanggaran HAM. Tidak menjamin akan penegakan hak asasi manusia, tetapi bila orang Papua tidak menuntut kemerdekaannya, tentu pelanggaran HAM yang terjadi di Papua tidak akan se-fatal yang terjadi selama ini. Militer terus dikirim ke Papua untuk mengamankan Papua dari pihak-pihak yang dianggap pusat sebagai kaum separatis, tetapi sudah tercatat sampai di KOMNAS HAM RI bahwa masyarakat biasa yang justru menjadi korban kekerasan oleh pihak militer yang menargetkan OPM.
Buldozer yang digunakan oleh pihak perusahaan untuk membuka hutan adat di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Foto: Margaretha Beraan/AMAN Kaltim. SOURCE
  • Nasib orang Papua sama dengan orang Dayak di Kalimantan. Satu persamaan antara Kalimantan dan Papua adalah sumber daya alamnya yang melimpah. Di Kalimantan kita ketahui bahwa sumber daya alamnya dikeruk semena-mena untuk kepentingan pihak kapitalis, tetapi masyarakat Dayak tidak diperhatikan supaya orang Dayak jangan menjad pintar dan menuntut penegakkan haknya. Keadaan Papua lebih baik karena ada orang-orang yang menyadari dampak dari berdiam diri saat melihat ketidakadilan. Memang kisah Kalimantan dan Papua berbeda, bagi orang Papua kemerdekaan adalah solusi terbaik, sementara orang Kalimantan masih mencari solusi.

Masih banyak hal yang tidak dapat kita prediksi, tetapi 4 hal di atas memiliki peluang 95 % terjadi jika orang Papua tidak berteriak menuntut kemerdekaan. Yang menjadi pertanyaan, apakah orang Papua akan terus berteriak menuntut kemerdekaannya? Kapan orang Papua akan berhenti berteriak menuntut kemerdekaan?

Berdiam diri atau berteriak?

JIKA PAPUA TIDAK MENUNTUT KEMERDEKAAN

Papua yang dahulu dipanggil Irian Jaya tidak pernah kehabisan penuntut kemerdekaan sejak berada di bawah kekuasaan Indonesia. Dampak tuntutan kemerdekaan itu sangat terasa di tanah Papua maupun Jakarta.

Dampak dari tuntutan kemerdekaan itu sudah banyak kita saksikan sendiri, misalnya kasus rasime beberapa waktu lalu di Jogya, otonomis khusus, pembunuhan, bergabungnya Indonesia dengan Malanesian Spearhead Group (MSG) dan banyak pengaruh lainnya yang diberikan pro kemerdekaan Papua terhadap kebijakan Indonesia.

Tetapi, seperti apa kira-kira kondisi Papua sekarang jika orang Papua tidak menuntut kemerdekaan? Berikut ini beberapa kondisi yang akan terjadi jika orang Papua tidak pernah menuntut kemerdekaannya ke Jakarta.

  • No OTSUS. Otonomi khusus atau otsus diberikan Indonesia kepada provinsi Papua sebagai bentuk nilai tukar untuk supaya orang Papua segera berhenti minta merdeka. Baca selengkapnya disini
Kunjungan Menkopolhukam Luhut Binsar Panjaitan ke Papua tanggal 28-29 Maret 2016
  • Pemerintah pusat tidak akan memberi perhatian khusus. Papua memang diberikan perhatian lebih dibandingkan daerah-daerah lain diluar pulau Jawa yang tidak menuntut kemerdekaan, tentu hal tersebut adalah bentuk reaksi pemerintah pusat kepada daerah Papua. Jika tidak ada tuntutan kemerdekaan dari orang Papua, pasti tidak akan diberikan perhatian khusus terkecuali mengenai kekayaan alamnya.

  • Minim pelanggaran HAM. Tidak menjamin akan penegakan hak asasi manusia, tetapi bila orang Papua tidak menuntut kemerdekaannya, tentu pelanggaran HAM yang terjadi di Papua tidak akan se-fatal yang terjadi selama ini. Militer terus dikirim ke Papua untuk mengamankan Papua dari pihak-pihak yang dianggap pusat sebagai kaum separatis, tetapi sudah tercatat sampai di KOMNAS HAM RI bahwa masyarakat biasa yang justru menjadi korban kekerasan oleh pihak militer yang menargetkan OPM.
Buldozer yang digunakan oleh pihak perusahaan untuk membuka hutan adat di Muara Tae, Kutai Barat, Kalimantan Timur. Foto: Margaretha Beraan/AMAN Kaltim. SOURCE
  • Nasib orang Papua sama dengan orang Dayak di Kalimantan. Satu persamaan antara Kalimantan dan Papua adalah sumber daya alamnya yang melimpah. Di Kalimantan kita ketahui bahwa sumber daya alamnya dikeruk semena-mena untuk kepentingan pihak kapitalis, tetapi masyarakat Dayak tidak diperhatikan supaya orang Dayak jangan menjad pintar dan menuntut penegakkan haknya. Keadaan Papua lebih baik karena ada orang-orang yang menyadari dampak dari berdiam diri saat melihat ketidakadilan. Memang kisah Kalimantan dan Papua berbeda, bagi orang Papua kemerdekaan adalah solusi terbaik, sementara orang Kalimantan masih mencari solusi.

Masih banyak hal yang tidak dapat kita prediksi, tetapi 4 hal di atas memiliki peluang 95 % terjadi jika orang Papua tidak berteriak menuntut kemerdekaan. Yang menjadi pertanyaan, apakah orang Papua akan terus berteriak menuntut kemerdekaannya? Kapan orang Papua akan berhenti berteriak menuntut kemerdekaan?

Berdiam diri atau berteriak?