Shortcode


            Sesuatu dikatakan konyol bila tidak masuk akal atau aneh. Banyak sekali hal-hal dan keputusan konyol yang dilakukan pemerintah Indonesia di Papua. Berikut ini 7 hal-hal yang tidak wajar dan tidak masuk akal yang pernah dllakukan atau diputuskan Pemerintah Indonesia untuk Papua:

1.      Wartawan Asing Tidak Diizinkan Masuk Papua

Dimata hukum semua manusia adalah sama, artinya apapun yang diputuskan harus tidak memandang bulu. Tetapi, apa yang terjadi di Indonesia ini sangatlah tidak adil dan aneh, banyak wartawan asing yang berdatangan ke Indonesia diperbolehkan meliput apa saja yang mereka temui di seluruh wilayah Indonesia, tetapi tidak untuk Papua. Setiap wartawan asing yang datang ke Indonesia untuk meliput Papua selalu dipersulit dan kalaupun diizinkan, pasti diutus intelejen RI untuk mengawasi gerak-gerik mereka, selain itu mereka juga dilarang meliput atau mewawancarai masyarakat mengenai fakta politik yang sedang berlangsung. Segala informasi tentang Papua ditutupi supaya tidak mendunia.
Tetapi, kalau wartawan asing bebas meliput di Bali, mengapa wartawan asing tidak bebas meliput di Papua? Tentulah ini tidak adil dan tidak sesuai hukum.

2.      Pembunuhan Theys Hiyo Eluay

Pada 10 November 2001 silam di Jayapura, adapun pembunuhnya adalah kopassus. Pembunuhan tersebut direncanakan matang-matang, awalnya mereka menculik dan kemudian mengakhiri nyamanya.
Theys adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Papua melalui jalur-jalur damai, akan tetapi merasa akan kalah dimuka hukum maka akhirnya Indonesia pun memakai cara mengecut “menculik dan membunuh”.
Seharusnya Indonesia bertingkah sebagai gentlemen seperti dulu Belanda memperlakukan Indonesia, pada saat itu Belanda sama sekali tidak mengakhiri nyawa orang-orang seperti Soekarno, Moh. Hatta  yang pada saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur aman/no gun. Belanda hanya menghabisi orang-orang Indonesia yang juga perjuangkan kemerdekaannya dengan senjata.
Pantaslah kita menyebut Indonesia bangsa pengecut.

3.      Lebih Penting Kasus Palestina Dari Pada Kasus  Paniai

Manusia netral dan normal tentu akan mengatakan kasus Paniai yang menewaskan 9 orang pelajar sangatlah kejam, apalagi penembakan dilakukan oleh apparat keamanan. Akan tetapi kasus ini seolah dilupakan, bahkan tidak ada demontrasi untuk menuntaskan kasus ini, hanya beberapa orang asli Papua saja yang melakukannya di Jawa. Semua orang bukan Papua di Indonesia merasa itu bukan kasus mereka. Bahkan pada hari peringatan HAM sedunia yang hanya selisih 2 hari dari hari terjadinya penembakan di Paniai, tidak ada yang bersuara untuk Paniai, justru hari HAM dipakai parah buruh untuk meminta kenaikan gaji. Hal ini sangat berbeda dengan tanggapan masyarakat terhadap kasus Palestina, siang malam pasti ada yang berteriak di Indonesia untuk menuntut pemerintah bertindak menolong Palestina. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang lebih dekat?Siapa yang Indonesia?Mungkinkah memang Papua harus merdeka?



3 Tindakan Paling Tidak Masuk Akal Dan Tidak Adil Yang Pernah Dilakukan Pemerintah Indonesia Atas Papua


            Sesuatu dikatakan konyol bila tidak masuk akal atau aneh. Banyak sekali hal-hal dan keputusan konyol yang dilakukan pemerintah Indonesia di Papua. Berikut ini 7 hal-hal yang tidak wajar dan tidak masuk akal yang pernah dllakukan atau diputuskan Pemerintah Indonesia untuk Papua:

1.      Wartawan Asing Tidak Diizinkan Masuk Papua

Dimata hukum semua manusia adalah sama, artinya apapun yang diputuskan harus tidak memandang bulu. Tetapi, apa yang terjadi di Indonesia ini sangatlah tidak adil dan aneh, banyak wartawan asing yang berdatangan ke Indonesia diperbolehkan meliput apa saja yang mereka temui di seluruh wilayah Indonesia, tetapi tidak untuk Papua. Setiap wartawan asing yang datang ke Indonesia untuk meliput Papua selalu dipersulit dan kalaupun diizinkan, pasti diutus intelejen RI untuk mengawasi gerak-gerik mereka, selain itu mereka juga dilarang meliput atau mewawancarai masyarakat mengenai fakta politik yang sedang berlangsung. Segala informasi tentang Papua ditutupi supaya tidak mendunia.
Tetapi, kalau wartawan asing bebas meliput di Bali, mengapa wartawan asing tidak bebas meliput di Papua? Tentulah ini tidak adil dan tidak sesuai hukum.

2.      Pembunuhan Theys Hiyo Eluay

Pada 10 November 2001 silam di Jayapura, adapun pembunuhnya adalah kopassus. Pembunuhan tersebut direncanakan matang-matang, awalnya mereka menculik dan kemudian mengakhiri nyamanya.
Theys adalah salah satu tokoh yang memperjuangkan kemerdekaan Papua melalui jalur-jalur damai, akan tetapi merasa akan kalah dimuka hukum maka akhirnya Indonesia pun memakai cara mengecut “menculik dan membunuh”.
Seharusnya Indonesia bertingkah sebagai gentlemen seperti dulu Belanda memperlakukan Indonesia, pada saat itu Belanda sama sekali tidak mengakhiri nyawa orang-orang seperti Soekarno, Moh. Hatta  yang pada saat itu sedang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia melalui jalur aman/no gun. Belanda hanya menghabisi orang-orang Indonesia yang juga perjuangkan kemerdekaannya dengan senjata.
Pantaslah kita menyebut Indonesia bangsa pengecut.

3.      Lebih Penting Kasus Palestina Dari Pada Kasus  Paniai

Manusia netral dan normal tentu akan mengatakan kasus Paniai yang menewaskan 9 orang pelajar sangatlah kejam, apalagi penembakan dilakukan oleh apparat keamanan. Akan tetapi kasus ini seolah dilupakan, bahkan tidak ada demontrasi untuk menuntaskan kasus ini, hanya beberapa orang asli Papua saja yang melakukannya di Jawa. Semua orang bukan Papua di Indonesia merasa itu bukan kasus mereka. Bahkan pada hari peringatan HAM sedunia yang hanya selisih 2 hari dari hari terjadinya penembakan di Paniai, tidak ada yang bersuara untuk Paniai, justru hari HAM dipakai parah buruh untuk meminta kenaikan gaji. Hal ini sangat berbeda dengan tanggapan masyarakat terhadap kasus Palestina, siang malam pasti ada yang berteriak di Indonesia untuk menuntut pemerintah bertindak menolong Palestina. Yang menjadi pertanyaan, siapa yang lebih dekat?Siapa yang Indonesia?Mungkinkah memang Papua harus merdeka?